Orang itu adalah Nabiah BabaVanga yang memprediksi apa yang akan terjadi dalam 3000 tahun kedepan di dunia.Vanga (Vangelia) Pandeva lahir pada 31 Januari 1911 dan menghabiskan hidupnya tinggal di Bulgaria sampai dia meninggal pada 11 Agustus 1996. Ia kehilangan penglihatannya ketika ia berusia 12 tahun ketika ia tersapu oleh tornado. Dia ditemukan hidup dengan pasir di matanya, sehingga mengalami kebutaan. Vanga mulai membuat prediksi ketika ia berusia 16 tahun. Dia menjadi sangat terkenal karena karunia ini agak cepat. Banyak negarawan termasuk Hitler mengunjunginya.
Prediksi Vanga yang katanya paling mengejutkan dan sudah terbukti adalah: “Pada pergantian abad, pada bulan Agustus 1999 atau 2000, Kursk akan ditutupi dengan air, dan seluruh dunia akan menangis di atasnya.” (1980) Prediksi yang tidak masuk akal saat itu. Awalnya banyak yang tidak percaya sampai akhirnya dua puluh tahun kemudian, ketika kapal selam nuklir Rusia tenggelam dalam kecelakaan pada bulan Agustus 2000. Kapal selam itu bernama Kursk. Kursk – kota (menjadi nama kapal tersebut)
“Mengerikan, mengerikan! penduduk Amerika akan jatuh setelah diserang oleh burung-burung besi. Serigala akan melolong dalam semak(Bush), dan banyak orang tak berdosa menjadi korban.“(1989) Terjadi seperti yang diperkirakan. World Trade Center Towers di New York runtuh setelah serangan teroris pada 11 September 2001. WTC Towers itu dijuluki “Kembar” atau “Brothers.” Para teroris mengantar penumpang pesawat “burung besi” ke dalam menara. “Bush” jelas berkaitan dengan nama keluarga presiden AS saat itu. itu adalah 2 ramalan Vanga yang benar 100%. Anda mau percaya ataupun tidak atau mungkin menjadi paranoid? Faktanya adalah tidak ada yang tahu apakah semua yang diramalkan di bawah ini akan menjadi kenyataan atau tidak, kita lihat saja perkembangan dan kenyataanya....
Ramalan-ramalan Vanga di masa depan:
2011
Di karenakan hujan radioaktif di belahan bumi utara, tidak ada hewan atau tumbuh-tumbuhan akan tertinggal.
2014
Sebagian besar orang di dunia ini akan memiliki kanker kulit dan penyakit sejenisnya, sebagai akibat dari perang kimia.
2016
Eropa hampir gak ada yang menempati.
2018
Cina menjadi kekuatan dunia baru.
2023
Orbit Bumi akan berubah sedikit.
2028
Pengembangan sumber energi baru. Kelaparan perlahan berhenti menjadi masalah. Dapat Mengemudikan pesawat luar angkasa sampai ke Venus.
2033
Es di kutub utara dan selatan mencair.
2046
Setiap organ dapat diproduksi secara massal. Pertukaran organ tubuh menjadi metode pengobatan favorit.
2076
Tidak ada masyarakat kelas (komunisme)
2088
penyakit baru mewabah, orang-orang mulai tua dalam hitungan detik.
2097
Penyakit tua itu mulai sembuh.
2100
Manusia membuat matahari yang menerangi sisi gelap dari planet bumi.
2111
Orang-orang menjadi robot.
2123
Perang di antara negara-negara kecil.
2125
Kelaparan di seantero bumi (Orang-orang akan teringat Vanga lagi)
2167
Agama baru muncul.
2170
Kekeringan di seantero bumi.
2183
Koloni di Mars menjadi negara nuklir dan meminta kemerdekaan dari Bumi.
2187
Berhasil menghentikan 2 letusan gunung berapi.
2195
Koloni Laut sepenuhnya dikembangkan, energi dan makanan berlimpah
2196
Kendali campuran antara Asia dan Eropa.
2201
Proses termonuklir lambat. Suhu menurun.
2221
Dalam pencarian kehidupan di luar Bumi, manusia berhubungan dengan semua hal yang mengerikan.
2256
Spaceship freighting membawa penyakit baru ke dalam bumi.
2262
Orbit planet mulai berubah secara bertahap.
2271
Hukum-hukum fisika berubah
2273
Mencampurnya Ras kuning, putih dan hitam. Ras baru muncul.
2279
Tidak ada Energi (mungkin dari vakum atau lubang hitam).
2288
Perjalanan kembali ke masa lalu (Sisa Perjalanan diciptakan?). Kontak baru dengan orang asing.
2291
Matahari mendingin. Upaya-upaya sedang dilakukan untuk menyalakannya lagi.
2296
Perubahan gaya gravitasi.
2302
Misteri tentang alam semesta yang terungkap.
2304
Misteri bulan terungkap.
2341
Sesuatu yang mengerikan mendekati Bumi dari ruang angkasa.
2354
Kekeringan.
2371
Kelaparan dimana mana.
2378
Ras baru tumbuh dengan cepat.
2480
Dua pria membuat matahari akan bertabrakan. Bumi berada dalam kegelapan.
3005
Perang di Mars. Lintasan planet perubahan.
3010
Komet menabrak Bulan. Sekitar Bumi cincin/zona dari batu dan debu.
3797
Pada saat itu di Bumi membunuh semua kehidupan, tetapi manusia akan dapat meletakkan dasar bagi kehidupan baru di sistem bintang lain.
3803
Sebuah planet baru dihuni oleh sedikit orang, Iklim planet baru mempengaruhi organisme orang, mereka bermutasi.
3805
Perang antara manusia memperebutkan sumber daya.
3815
Perang sudah usai.
3854
Perkembangan peradaban hampir berhenti.
4302
kota-kota baru tumbuh di dunia. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi baru.
4302
Perkembangan ilmu pengetahuan. Para ilmuwan menemukan dalam keseluruhan dampak dari semua penyakit dalam perilaku organisme.
4304
Ditemukan cara untuk mengobati semua penyakit.
4308
Karena mutasi, pada akhirnya orang mulai menggunakan otak mereka lebih dari 34%. Benar-benar kehilangan pemahaman tentang kejahatan dan kebencian.
4509
Memahami Tuhan.
4599
Orang orang mencapai keabadian.
4674
Perkembangan peradaban telah mencapai puncaknya. Jumlah orang yang hidup di planet yang berbeda adalah 340 miliar. Asimilasi dimulai dengan alien.
5076
Sebuah batas alam semesta. Dengan itu, tak ada yang tahu.
5078
Keputusan untuk meninggalkan batas-batas alam semesta. Sementara ada sekitar 40% dari populasi yang menentangnya.
5079
The End of the World
Ini semua hanya sebuah ramalan yang kebenaranya masih menjadi pertanyaan untuk kita.. Semoga ini menjadikan kita untuk lebih dekat kepada Allah SWT dan menjadikan ini sebagai pembelajaran untuk lebih baik lagi kedepan ..
Kalau bicara soal mimpi ... angan-angan ... kita semua pasti punya mimpi ...punya angan-angan ... dan mimpi aku sendiri itu banyak .... semuaaanya yang aku inginin ... semuanya yang ingin aku raih .... sampe-sampe aku malu nulisnya apa mimpi yg mau aku gapai itu ....6_^ ..
iaaa salah satunya membahagiakan orangtua secara lahirriah dan batinniah ... bukan hanya orangtua ... tapi, sama mbak ku tercinta .... adik-adik ku tersayang ... smua keluarga aku dahhhhh .....
aku juga pernah denger orang bilang .... ada seseorang yang punya mimpi utuk menjadi orang besarr ... eh ternyata mimpinya kesampean ..... waahhhh HE'SMY BIGGEST INSPIRATION ....
iaa, kesuksessannya bukan hanya mimpi tapi nyata .... he's dream to come true ... mimpi menjadi tujuan .... mimpi menjadi semangat .... mimpi menjadi motivasi ... semuanya butuh perjuangan .. karena mimpi yang indah kita mau berusaha ...
Mimpi memang misteri yang tak tahu apa maksudnya......... Mimpi menjadi kebahagiaan batin sesaat yang tak tersampaikan untuk saat ini ...... itulah mimpi ku, semoga menjadi yang terbaik untuk kehidupanku saat ini dan akan datang....amien
Selasa, 29 Maret 2011
Kisah Nabi Idris As Melihat Pintu Surga Dan Neraka ..
Setiap hari Malaikat Izrael dan Nabi Idris beribadah bersama. Suatu ketika, sekali lagi Nabi Idris As mengajukan permintaan. “Bisakah engkau membawa saya melihat surga dan neraka?”
“Wahai Nabi Allah, lagi-lagi permintaanmu aneh,” kata Izrael.
Setelah Malaikat Izrael memohon izin kepada Allah, dibawanya Nabi Idris ke tempat yang ingin dilihatnya.
“Ya Nabi Allah, mengapa ingin melihat neraka? Bahkan para Malaikat pun takut melihatnya,” kata Izrael.
“Terus terang, saya takut sekali kepada Azab Allah itu. Tapi mudah-mudahan, iman saya menjadi tebal setelah melihatnya,” Nabi Idris menjelaskan alasannya.
Waktu mereka sampai ke dekat neraka, Nabi Idris langsung pingsan. Penjaga neraka adalah Malaikat yang sangat menakutkan. Ia menyeret dan menyiksa manusia-manusia yang durhaka kepada Allah semasa hidupnya. Nabi Idris tidak sanggup menyaksikan berbagai siksaan yang mengerikan itu. Api neraka berkobar dahsyat, bunyinya bergemuruh menakutkan, tak ada pemandangan yang lebih mengerikan dibanding tempat ini.
Dengan tubuh lemas Nabi Idris meninggalkan tempat yang mengerikan itu. Kemudian Izrael membawa Nabi Idris ke surga. “Assalamu’alaikum…” kata Izrael kepada Malaikat Ridwan, Malaikat penjaga pintu surga yang sangat tampan.
Wajah Malaikat Ridwan selalu berseri-seri di hiasi senyum ramah. Siapapun akan senang memandangnya. Sikapnya amat sopan, dengan lemah lembut ia mempersilahkan para penghuni surga untuk memasuki tempat yang mulia itu.
Waktu melihat isi surga, Nabi Idris kembali nyaris pingsan karena terpesona. Semua yang ada di dalamnya begitu indah dan menakjubkan. Nabi Idris terpukau tanpa bisa berkata-kata melihat pemandangan sangat indah di depannya. “Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah…” ucap Nabi Idris beulang-ulang.
Nabi Idris melihat sungai-sungai yang airnya bening seperti kaca. Di pinggir sungai terdapat pohon-pohon yang batangnya terbuat dari emas dan perak. Ada juga istana-istana pualam bagi penghuni surga. Pohon buah-buahan ada disetiap penjuru. Buahnya segar, ranum dan harum.
Waktu berkeliling di sana, Nabi Idris diiringi pelayan surga. Mereka adalah para bidadari yang cantik jelita dan anak-anak muda yang amat tampan wajahnya. Mereka bertingkah laku dan berbicara dengan sopan.
Mendadak Nabi Idris ingin minum air sungai surga. “Bolehkah saya meminumnya? Airnya kelihatan sejuk dan segar sekali.”
“Silahkan minum, inilah minuman untuk penghuni surga.” Jawab Izrael. Pelayan surga datang membawakan gelas minuman berupa piala yang terbuat dari emas dan perak. Nabi Idris pun minum air itu dengan nikmat. Dia amat bersyukur bisa menikmati air minum yang begitu segar dan luar biasa enak. Tak pernah terbayangkan olehnya ada minuman selezat itu. “Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah,” Nabi Idris mengucap syukur berulang-ulang.
Setelah puas melihat surga, tibalah waktunya pergi bagi Nabi Idris untuk kembali ke bumi. Tapi ia tidak mau kembali ke bumi. Hatinya sudah terpikat keindahan dan kenikmatan surga Allah.
“Saya tidak mau keluar dari surga ini, saya ingin beribadah kepada Allah sampai hari kiamat nanti,” kata Nabi Idris.
“Tuan boleh tinggal di sini setelah kiamat nanti, setelah semua amal ibadah di hisab oleh Allah, baru tuan bisa menghuni surga bersama para Nabi dan orang yang beriman lainnya,” kata Izrael.
“Tapi Allah itu Maha Pengasih, terutama kepada Nabi-Nya. Akhirnya Allah mengkaruniakan sebuah tempat yang mulia di langit, dan Nabi Idris menjadi satu-satunya Nabi yang menghuni surga tanpa mengalami kematian. Waktu diangkat ke tempat itu, Nabi Isris berusia 82 tahun.
Firman Allah:
“Dan ceritakanlah Idris di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah orang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi, dan kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS Al-Anbiya:85-86).
*** Pada saat Nabi Muhammad sedang melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj ke langit, beliau bertemu Nabi Idris. “Siapa orang ini? Tanya Nabi Muhammad kepada Jibril yang mendampinginya waktu itu.
“Inilah Idris,” jawab Jibril. Nabi Muhammad mendapat penjelasan Allah tentang Idris dalam Al-Qur’an Surat Al-Anbiya ayat 85 dan 86, serta Surat Maryam ayat 56 dan 57.
Sadarkah kalian bahwa kita akan melewati ini semua ..... Akan kemanakan kita !!! Semuanya tergantung dari amal dan perbuatan kita didunia ... Semoga kita semua menjadi orang-orang yang diridho e untuk menjadi penghuni surga ...Amin.
Seorang pemuda Papua mengungkapkan cintanya pada seorang gadis. Begini dialog nya:
Pemuda : "Ade, beta su lama jatuh cinta ke ade. Ade mau jadi kaka pu pacar ka?" Cewek : "Adooo, kaka. Tra bisa. Sa masih sekolah." Pemuda : "Ooooo.. kaka kira ade sudah libur..."
Sakit Mata Yaklep su rasa stress, karena, kalau lia orang sedikit kabur atau tra jelas, karena dia pu mata su rusak, makanya dia pergi ke optic mo beli kaca mata.
Pelayan : "Siang pace, ada yang bisa di bantu?" Yaklep: "sa pu mata su rusak, coba ko cari kaca mata yang pas kah...� Pelayan : "pace so pernah pake kacamata kah?" Yaklep: "Ohh..belum...." Pelayan : "Kalu bagitu torang periksa dulu. Mari Pace, torang ke tampa periksa." Pelayan : "Pace, ini huruf apa?" (sambil tunjuk tu huruf yang sediki basar) Yaklep: "aduh… tra jelas..." Pelayan : "Kalu huruf ini?" (Sambil tunjuk huruf yang lebih basar) Yaklep : "Masih kurang jelas..." Pelayan : "aduh.. pace ini sudah huruf yang paling besar. Coba lihat lagi huruf apa ini?" (sambil tunjung huruf yang basarnya sama deng piring) Yaklep: "Sama saja...masih tra jelas" Pelayan : (sambil garu-garu kapala karena bingung) "Kenapa dari tadi pace ko bilang tra jelas terus, baru bagaimana ini?� Yaklep: "habis, sa tra pernah sekolah jadi, bagai mana sa mau tau itu huruf apa...?"
Salah Tafsir Suatu pagi yang indah di sebuah sekolah dasar, seorang guru yang begitu berdedikasi mengajar anak2 muridnya tentang betapa bahayanya minuman keras kepada mereka. Sebelum memulai pelajarannya pada hari itu dia telah mengambil 2 ekor cacing yang hidup, sebagai sampel dan dua gelas yang masing2 berisi dengan air mineral dan arak..
“Coba perhatikan murid2.. lihat bagaimana saya akan memasukkan cacing ini kedalam gelas, perhatikan betul2. Cacing yang sebelah kanan saya, akan saya masukkan ke dalam air mineral sedangkan cacing yang sebelah kiri saya akan masukkan ke dalam arak. Perhatikan betul2.”
Semua mata tertuju pada kedua ekor cacing itu. Cacing yang berada dalam gelas yang berisi air mineral itu berenang di dasar gelas, sedangkan cacing yang berada di dalam arak tergeletak lalu mati. Si guru tersenyum lebar melihat anak2 muridnya memberikan perhatian pada pelajarannya.
“Baiklah murid2, apa yang kamu dapat dari pelajaran yang saya tunjukkan tadi??”
Dengan penuh yakin anak2 muridnya menjawab,
Untuk menghindari cacingan….. minumlah arak………
Mirip Artis Saat Rini menunggu bis disebuah halte Pulang kuliah tiba-tiba seorang cowok menegurnya :
Cowok: “Mbak Olla Ramlan ya..”. Rini menjawab sambil setengah terkejut, “Bukan?!”. Cowok itu menunduk malu, tapi masih penasaran dan nekat bertanya lagi, “Mbak Olla Ramlan ya…” Rini menjawab setengah risih, “Bukan?!”, sambil berpikir, apa iya aku memang mirip Olla ya?”. Cowok itu masih penasaran rupanya dan kembali bertanya : “Mbak… mbak Olla Ramlan khan?”. Putus asa, Rini menjawab, “Iya”. Cowok itu lalu menyahut: “Lho… kok ndak mirip”.
Lohhh..... Jaman Perang Dunia ke III, Amerika merupakan suatu negara yang menjadi sasaran gempuran negara-negara lain. Yang pertama kali menggempur adalah negara Rusia, ketika pesawat tempur Rusia datang, prajurit Amerika bertariak, “Jendral, pesawat musuh datang..!”. Sang jendral memberi perintah, “Tembak!”. Datang lagi pesawat tempur dari negara-negara lain, sang jendral juga memberi perintah untuk menembak.
Terakhir datang pesawat tempur dari INDONESIA, pasukan Amerika teriak lagi, “Jendral, pesawat Indonesia datang…!”.
“Jangan tembak!”, perintah sang jendral. Prajurit bingung lalu bertanya, “Kok ngga boleh ditembak…???”. Sang jendral dengan enteng menjawab, “ENTAR JUGA JATUH SENDIRI!”.
Penjaga Rel Sarjo melamar pekerjaan sebagai penjaga lintasan kereta api. Dia diantar menghadap Pak Banu, kepala bagian, untuk test wawancara.
“Seandainya ada dua kereta api berpapasan pada jalur yang sama, apa yang akan kamu lakukan?”, tanya Pak Banu, ingin mengetahui seberapa cekatan Sarjo. “Saya akan pindahkan salah satu kereta ke jalur yang lain,” jawab Sarjo dengan yakin. “Kalau handle untuk mengalihkan rel-nya rusak, apa yang akan kamu lakukan?”, tanya Pak Banu lagi. “Saya akan turun ke rel dan membelokkan relnya secara manual.” “Kalau macet atau alatnya rusak bagaimana?” “Saya akan balik ke pos dan menelpon stasiun terdekat.” “Kalau telponnya lagi dipakai?” “Saya akan lari ke telpon umum terdekat?” “Kalau rusak?” “Saya akan pulang menjemput kakek saya.” “LHO?”, tanya Pak Banu heran dengan jawaban Sarjo. “Karena seumur hidupnya yang sudah 73 tahun, kakek saya belum pernah melihat kereta api tabrakan…”
Yang dicinta kan pergi .......
Yang didamba kan hilang ........
Hidup kan terus berjalan ......
Meski penuh dengan tangisan ...........
Sebuah cerita yang mengajarkan tentang persaudaraan adalah segala-galanya ........
SILAKAN MEMBACA 6_^
Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!
Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku.Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat.Kalau ada sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran.Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.“Kakak kamu itu keren dan humoris. Masih kosong nggak sih?”“Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang rumahku suka membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho!!”
“Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?”Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cuma tersenyum bangga. Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya? “Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! He..he..he…”Kata Mas Gagah pura-pura serius.
Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat! Itulah Mas Gagah! Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah! Drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…
“Mas Gagah! Mas! Mas Gagaaaaaahhh!” teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras. Tak ada jawaban. Padahal kata Mama, Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa Arab gundul. Tak bisa kubaca. Tetapi aku bisa membaca artinya: Jangan masuk sebelum memberi salam! “Assalaamu’alaikum!”seruku. Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah. “Wa alaikummussalaam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?” “Matiin kasetnya!” “Lho memangnya kenapa?” “Gita kesel dengerin kasetnya Mas Gagah! Memangnya kita orang Arab…, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!”. “Ini Nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita!" “Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri,”. “Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek.., Mama bingung. Jadinya ya dipasang di kamar.” “Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…,eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!” “Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…” “Pokoknya kedengaran!” “Ya, sudah. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus lho!” “Ngak, pokoknya Gita nggak mau denger!” Aku pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Ke mana kaset-kaset Scorpion, Wham, Elton John, Queen, Eric Claptonnya?” “Wah, ini nggak seperti itu Gita! Dengerin Scorpion atau Eric Clapton belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lainhal ya dengan nasyid senandung islami. Gita mau denger? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok!”.
Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak Cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma adik kecilnya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya. Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Shalat tepat waktu, berjamaah di Mesjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip dari lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau membaca buku Islam. Dan kalau aku mampir ke kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya “Ayo dong Gita, lebih feminim. Kalau kamu mau pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kanharus anggun. Coba adik manis, ngapain sih rambut ditrondolin begitu!”.
Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga tidak pernah keberatan kalau aku meminjam baju kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu selalu memanggilku Gito, bukan Gita! Eh sekarang pakai panggil adik manis segala! Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga Mama menegurnya. “Penampilanmu kok sekarang lain Gah?” “Lain gimana Ma?” “Ya nggak semodis dulu. Nggak dandan lagi. Biasanya kamu kan paling sibuk sama penampilan kamu..". Mas Gagah cuma senyum. “Suka begini Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun.” Ya, dalam pandanganku Mas Gagah kelihatan menjadi lebih kuno, dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. “Jadi mirip Pak Gino.”. Mas Gagah cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama dan bercanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah kebingungan. Dan..yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?” “Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan sama Rini? Dia tuh cewek paling beken di sanggar Gita tahu?”. “Jangan gitu dong Mas. Sama aja nggak menghargai orang!” “Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu,". “Gita lihat kangaya orang Sunda salaman? Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!” Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya?” Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku.”Baca!” Kubaca keras-keras. “Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhori Muslim.” “Tapi Kyai Anwar mau salaman sama Mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali…,”. “Bukankah Rasulullah qudwatun hasanah? Teladan terbaik?” Kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. “Coba untuk mengerti ya dik manis?” Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh!
Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik. Aku jadi khawatir, apa dia lagi nuntut ilmu putih? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa orang-orang sok agamis tapi ngawur. Mas Gagah orangnya cerdas sekali. Jenius malah. Umurnya baru dua puluh satu tahun tetapi sudah tingkat empat di FT-UI. Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya…yaaa akhir-akhir ini dia berubah. “Mau kemana Gita?”
“Nonton sama temen-temen.”. ”Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya.” “Ikut Mas aja yuk!” “Ke mana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah. Gita kayak orang bego di sana!” Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu lalu Mas Gagah mengajak aku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tablig akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku diliatin sama cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya aku ke sana dengan memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang tidak bisa disembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa Mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut. “Assalamualaikum!” terdengar suara beberapa lelaki.
Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Dulu nggak ada teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah bahkan nggak memperkenalkan mereka padaku. Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. “Ssssttt.” Seperti biasa aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal keislaman, diskusi, belajar baca Quran atau bahasa Arab… yaa begitu deh! “Subhanallah, berarti kakak kamu ihkwan dong!” Kata Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah hampir sebulan berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya. “Ikhwan?’ ulangku. “Makanan apaan tuh? “Husy, untuk laki-laki ikhwan dan untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita.” Ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. “Kamu tahu Hendra atau Isa kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini.” Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah. “Udah deh Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji. Insya Allah kamu akan tahu menyeluruh tentang agama kita ini. Orang-orang seperti Hendra, Isa atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya aja yang belum ngerti dan sering salah paham.” Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku ia menjelma begitu dewasa. “Eh kapan kamu main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat Gita…mesti kita mempunyai pandangan yang berbeda, ” ujar Tika tiba-tiba. “Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah…”. Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin.” Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk, biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan dengan Mbak Ana. “Mbak Ana?”. “Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amerika malah pakai jilbab. Ajaib. Itulah hidayah. “Hidayah.” “Nginap ya. Kita ngobrol sampai malam dengan Mbak Ana!”
“Assalaamualaikum, Mas ikhwan.. eh Mas Gagah!”. "Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!” Kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku. “Dari rumah Tika, teman sekolah, “. “Lagi ngapain, Mas?”. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, gambar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia. Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua rak koleksi buku keislaman… “Cuma lagi baca!” “Buku apa?” “Tumben kamu pingin tahu?” “Tunjukkin dong, Mas…buku apa sih?”. “Eiit…eiitt Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.
Kugelitik kakinya. Dia tertawa dan menyerah. “Nih!”serunya memperlihatkan buku yang tengah dibacanya. “Naah yaaaa!”aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku “Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam” itu. “Maaas…” “Apa Dik Manis?” “Gita akhwat bukan sih?” “Memangnya kenapa?” “Gita akhwat atau bukan? Ayo jawab…” tanyaku manja. Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara padaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami umatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu menjadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal-lainnya. Dan untuk pertamakalinya setelah sekian lama, aku kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.Mas Gagah dengan semangat terus bicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya. “Mas kok nangis?” “Mas sedih karena Allah, Rasul dan Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena umat banyak meninggalkan Quran dan sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan dan tidur beratap langit.” Sesaat kami terdiam. “Kok tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?”. “Gita capek marahan sama Mas Gagah!”. “Memangnya Gita ngerti yang Mas katakan?” “Tenang aja. Gita ngerti kok!” kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah menerangkan demikian. Aku ngerti deh meskipun tidak begitu mendalam.Malam itu aku tidur ditemani buku-buku milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah.
Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi seperti dulu. Meski aktifitas yang kami lakukan bersama kini berbeda dengan yang dulu. Kini tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah umum, atau ke tempat-tempat di mana tablig akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah. Kadang-kadang, bila sedikit terpaksa, Mama dan Papa juga ikut. Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung, soalnya pengantinnya nggak bersanding tetapi terpisah. Tempat acaranya juga begitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu juga diberi risalah nikah. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tidak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran. Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku, soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan.
“Nyoba pakai jilbab. Git!” pinta Mas Gagah .
“Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol. Lagian belum mau deh. “Gita lebih anggun jika pakai jilbab dan lebih dicintai Allah kayak Mama.” Memang sudah beberapa hari ini Mama berjilbab, gara-garanya dinasihati terus sama Mas Gagah, dibeliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin oleh teman-teman pengajian beliau. “Gita mau tapi nggak sekarang,”. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku, prospek masa depan dan semacamnya. “Itu bukan halangan.” Ujar Mas Gagah. “Ini hidayah, Gita.” Kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum. “Hidayah? Perasaan Gita duluan yang dapat hidayah, baru Mama. Gita pakai rok aja udah hidayah. “Lho! ” Mas Gagah bengong. Dengan penuh kebanggaan kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak bangga? Dalam acara studi tentang Islam, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya. Aku yang berada di antara ratusan peserta rasanya ingin berteriak, “Hei itu kan Mas Gagah-ku!”. Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus. Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Quran dan hadits. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung, “Lho Mas Gagah kok bisa sih?” Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar. Pada kesempatan itu Mas Gagah berbicara tentang Muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi. “Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana takwa, sebagai identitas Muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam itu sendiri, ” kata Mas Gagah. Mas Gagah terus bicara. Kini tiap katanya kucatat di hati.
Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan cara memakai jilbab yang rapi. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdallah. Aku mau kasih kejutan kepada Mas Gagah. Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapkan tasyakuran ulang tahun ketujuh belasku. Kubayangkan ia akan terkejut gembira. Memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberi ceramah pada acara syukuran yang insya Allah akan mengundang teman-teman dan anak-anak yatim piatu dekat rumah kami. “Mas ikhwan! Mas Gagah! Maasss! Assalaamualaikum! Kuketuk pintu Mas Gagah dengan riang. “Mas Gagah belum pulang. “kata Mama. “Yaaaaa, kemana sih, Ma??”. “Kan diundang ceramah. Katanya langsung berangkat dari kampus…” “Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam Minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Mesjid". “Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah ingat ada janji sama Gita hari ini.” Hibur Mama. Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali sama Mas Gagah. “Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh!” Mama tertawa.
Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Sudah lepas Isya’ Mas Gagah belum pulang juga. “Mungkin dalam perjalanan kan lumayan jauh..” hibur Mama lagi. Tetapi detik demi detik menit demi menit berlalu sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga. “Nginap barangkali, Ma.” Duga Papa. Mama menggeleng. “Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa.” Aku menghela napas. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya. “Kriiiinggg!” telpon berdering. Papa mengangkat telpon,”Hallo. Ya betul. Apa? Gagah?” “Ada apa, Pa.” Tanya Mama cemas. “Gagah…kecelakaan…Rumah Sakit Islam…” suara Papa lemah. “Mas Gagaaaaahhhh” Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.
Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah. Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Kaki, tangan dan kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas seketika sedang Mas Gagah kritis.
Dokter melarang kami masuk ke dalam ruangan. ” Tetapi saya Gita adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau melihat saya pakai jilbab ini.” Mama dengan lebih tenang merangkulku. “Sabar sayang, sabar.” Di pojok ruangan Papa dengan serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. “Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?” tanyaku. “Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada acara syukuran Gita kan?” Air mataku terus mengalir. Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding-dinding putih rumah sakit. Dan dari kaca kamar, tubuh yang biasanya gagah dan enerjik itu bahkan tak bergerak. “Mas Gagah, sembuh ya, Mas…Mas..Gagah, Gita udah menjadi adik Mas yang manis. Mas..Gagah…” bisikku.
Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah…Gita, Mama, Papa butuh Mas Gagah…umat juga.” Tak lama Dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. “Ia sudah sadar dan memanggil nama Papa, Mama dan Gi..” “Gita…” suaraku serak menahan tangis. Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya sesuai permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya…lukanya terlalu parah.” Perkataan terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!. “Mas…ini Gita Mas..” sapaku berbisik. Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.
Kudekatkan wajahku kepadanya. “Gita sudah pakai jilbab, kataku lirih. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya.” Tubuh Mas Gagah bergerak lagi. “Dzikir…Mas.” Suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat tubuh Mas Gagah yang separuhnya memakai perban. Wajah itu begitu tenang. “Gi..ta…”
Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali. “Gita di sini, Mas…”
Perlahan kelopak matanya terbuka. “Aku tersenyum.”Gita…udah pakai…jilbab…” kutahan isakku.
Memandangku lembut Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdallah. “Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas…” ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu. Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tidak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah…sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali. Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan tampaknya Mas Gagah menginginkan kami semua berkumpul. Kian lama kurasakan tubuh Mas gagah semakin pucat, tetapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia masih bisa mendengar apa yang kami katakan, meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata. Kuusap setitik lagi air mata yang jatuh. “Sebut nama Allah banyak-banyak…Mas,” kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup, tetapi sebagai insan beriman sebagaimana yang juga diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.
“Laa…ilaaha…illa..llah…Muham…mad Ra..sul …Allah… suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk bisa kami dengar. Mas Gagah telah kembali kepada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi. Selamat jalan Mas Gagah.
KARTU UCAPAN UNTUK DIK MANIS :
Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku. Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris. Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Illahi yang selamanya tiada kan kudengar lagi. Hanya wajah para mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema d iruangan ini. Setitik air mataku jatuh lagi “Mas, Gita akhwat bukan sih?” “Ya, insya Allah akhwat!” “Yang bener?” “Iya, dik manis!” “Kalau ikhwan itu harus ada janggutnya, ya?!” “Kok nanya gitu sih?” “Lha, Mas Gagah kan ada janggutnya?” “Ganteng kan?” “Uuuuu! Eh, Mas, kita kudu jihad ya?”. "Jihad itu apa sih, jihad itu…”Setetes, dua tetes air mataku kian menganak sungai. Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan. Selamat jalan Mas Ikhwan!Selamat jalan Mas Gagah!
Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi, Semoga memperoleh umur yang berkah,
Dan jadilah muslimah sejati
Agar Allah selalu besertamu.
Sun sayang,
Mas Ikhwan, eh Mas Gagah!
PESAN TERAKHIR YANG KU DAPAT DARI MAS GAGAH .........
Dunia ini adalah perhiasa dan .... sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita sholihah ...
Wanita sholehah adalah ....
Wanita yang paling taat kepada Allah,
Wanita yang menjadikan Al-quran dan hadist sebagai sumber hukum dalam mengatur seluruh kehidupanya,
Ibadahnya baik, akhlak dan budi pekerti yang mulia, tidak suka berdusta, bergunjing,
Berbuat baik dan bakti kepada orang tua,
Taat kepada suami, menjaga harta suami, mendidik anak dengan kehidupan islam, jika dipandang menyejukan, menentramkan bila didekatnya, hatinya tenang jika ditinggal pergi,
Ia tidak bermewah-mewah dengan dunia, tawadhu, sederhana,
Ia bermanfaat dilingkungannya, Ia menyeru manusia kepada Allah dengan kedua tangannya, lisan yang lembut, hati yang bersih, akal yang cerdas.
Andai bisa kumengulang waktu hilang dan terbuang .
Andai bisa kukembali hapus semua pedih .
Andai mungkin aku bisa kembali tulus sgalanya .
tapi hidup takkan bisa meski dengan air mata ......
seiring waktu berlalu tangis tawa dinafasku ..
hitam putih dihidupku jalan ditakdirku ...
tiada satu tersembunyi tiada satu terlupa..
segala apa yang terjadi kau laa saksiku ..
Detik waktu terus berjalan ...
berhiaskan gelap dan terang ....
suka dan duka tangis dan tawa tergores bagai lukisan ...
seribu mimpi berjuta sepi .
hadir bagai teman sejati ..
KAU MAHA MELIHAT ...
KAU MAHA PENYAYANG .....
semogaaaaaaaa ..........
Terkadang hidup memang berat dan terkadang membuat kita hampir menyerah ..... Tapi, aku percaya kau lah pelindung dari hidupku ... Sabarkan hati ku ... Karna Kauu Lahh Cinta Kuu ....
MENJELANG hari yang bahagia, Tania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikahdengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Tania. Mereka ternyata sama herannya.
"Kenapa?" tanya mereka di hari Tania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Tania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sedang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Tania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu. Hatinya sibuk merangkai kata-kata. Mulut Tania terbuka. Semua menunggu, Tapi tak ada apapun yang keluar darisana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saatTania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya.
"Kamu pasti bercanda!" Tania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging diwajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Tania menyimpulkan mereka serius ketika mengira Tania bercanda.
Suasana menjadi hening. Bahkan keponakan-keponakan Tania semua menatap Tania! "Tania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.
"Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang
paling cantik!"
Tania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Tania tidak
sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh
seleidik .
"Tapi Tania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan
nada penuh wibawa, "maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya
tidak harus iya, kan?"
Tania terkesima. "Kenapa?"
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik. Sebab kamu paling berprestasidibandingkan kami.
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa.
Tania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!
Tania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama.
"Tania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan airmata. Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadartidak
suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli.
"Tapi kenapa?"
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa.
Bergantian tiga saudara tua Tania mencoba membuka matanya. "Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Tania!"
Cukup! Tania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameterkebaikan
seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan
seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Tania lagi-lagi gagal membuka mulut untuk membela Rafli. Barangkali karena Tania memang tidak
tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta bisa membuat Rafli
tampak 'luar biasa'.
Tania Cuma punya rasa cinta yang besar untuk Rafli.
Akhirnya Tania dan Rafli menikah.
***
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Tania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Tania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
Tania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Tania bisa merasakannya hanya dari
sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia memperlakukan Tania. Hal-hal sederhana yang membuat
perempuan itu sangat bahagia. "Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Tania."
Nada suara Tania tegas, mantap, tanpa keraguan. Ketiga saudara Tania hanya memandang lekat, mata
mereka terlihat tak percaya. "Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!"
"Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!" "Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya
kehidupan yang lebih baik!"
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak! Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan? Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Tania. Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Tania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma. "Lihat hidupmu, Tania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, Mapan.
Teganya kakak-kakak Tania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi
punya anak. Ketika lima tahun pernikahan berlalu, Perkataan itu tak juga berhenti. Padahal Tania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin
setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Tania lebih dari cukup untuk hidup senang.
"Tak apa," kata lelaki itu, ketika Tania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri.
"Gaji Tania cukup, maksud Tania jika digabungkan dengan gaji Rafli."
Tania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa
besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik. "Sebaiknya Tania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?"
Lalu dia mengelus pipi Tania dan mendaratkan kecupan lembut.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan
biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Tania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Tania dikantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah,
rumah Tania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Tania memiliki suami terbaik di dunia.
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Tania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di
kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Tania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!
Dulu bisik-bisik itu membuatnya resah. Tapi Tania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Saya hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Tania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Tania
mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Tania, atau
membuat Tania menangis.
***
Bayi yang dikandung Tania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.
Harus segera dikeluarkan!"
Mula-mula dokter kandungan Tania memasukkan obat ke dalam rahim Tania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Tania dirumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara
kakak-kakak serta orangtua Tania belum satu pun yang datang.
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Tania tak menunjukkan
tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Tania. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.
"Baru pembukaan satu."
"Belum ada perubahan, Bu."
"Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster.
"Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."
Tania dan Rafli berpandangan.
Tigapuluh jam berlalu. Tania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah,
mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.
"Masih pembukaan dua, Pak!"
Rafli tercengang. Cemas. Tania tak bisa bahagia karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi
ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
"Ayah?"
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.
"Dokter?"
"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali
pusar."
Mungkin?
Rafli dan Tania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?
Mereka berpandangan, Tania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan
genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi.
Pembiusan dilakukan, Tania dibawa ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia
tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum
kemudian dia tak sadarkan diri. Kepanikan yang dirasakan Rafli. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Tania yang baru tiba mendekat.
"Pendarahan hebat." Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!
Bayi mereka selamat, tapi Tania dalam kondisi kritis. Mama Tania yang baru tiba, menangis. Papa termangu
lama sekali. Saudara-saudara Tania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.
***
Sudah seminggu lebih Tania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus
membagi perhatian bagi Tania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si
kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat. Tidak sampai empat hari, mereka sudah boleh membawanya pulang.
Mama, Papa, dan ketiga saudara Tania terkadang ikut menunggui Tania di rumah sakit, sesekali mereka ke
rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga
Tania dengan Rafli.
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat
anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh,
Karena dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.
Begitulah Rafli menjaga Tania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat
telinga Tania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan
menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Tania bisa merasakan kehadirannya.
"Tania, bangun, Cinta?"
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih
berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Tania sambil menggenggam tangan istrinya mesra.
Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Tania kerumah sakit dan membacanya dengan suara pelan.
Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik, "Tania, bangun, Cinta?"
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Tania sadar, yang lain tak jadi
soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Tania, semua yang
menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.
Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Tania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat
sering lupa makan.
Ia ingin melihat Tania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Tania sudah tidur terlalu lama.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Tania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama
ditangkap matanya.
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Tania dan mendekapkannya ke dadanya,
mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh. Asalkan Tania sadar, semua tak penting lagi.
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah
merawat Tania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Tania, lalu mengantar
anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju
rumah dan menggendong Tania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Tania seperti remaja belasan
tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Tania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan
cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin tania selalu merasa cantik. Meski seringkali Tania
mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Tania, membuatnya
pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Dimata Rafli.
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu
menyertakan Tania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Tania harus ikut.
Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Tania. Begitu bertahun-tahun.
Awalnya tentu Tania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang
menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Tania ke sana
kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur tania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga,
sahabat, dan teman-teman Tania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, semua berbisik-bisik.
"Baik sekali suaminya!"
"Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"
"Tania beruntung!"
"Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya."
"Tidak, cuma menerima apa adanya, kalian lihat
bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!"
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.Bisik-bisik yang serupa dengungan
yang sempat membuat Tania binggung. Tapi dia salah. Sangat salah. Tania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bisik-bisik itu
kini berbeda ?
Dari teras Tania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut
tergelak melihat kocak permainan.
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Tania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa
dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk